PESISIR SELATAN – Komitmen panjang menjaga lingkungan pesisir dan membangun budaya sadar bencana akhirnya mengantarkan Kelompok Laskar Peduli Lingkungan (LPPL) Nagari Amping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, meraih pengakuan di tingkat internasional.
Kelompok relawan yang telah berdiri sejak 2012 itu menerima sertifikat penghargaan dalam program yang didukung UNESCO sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam edukasi kebencanaan, khususnya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman tsunami di Indonesia.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa gerakan berbasis masyarakat di sebuah nagari mampu menarik perhatian dunia melalui aksi nyata yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Ketua LPPL Ampiang Parak, Haridman, mengatakan bahwa penghargaan tersebut diperoleh setelah tim penilai melakukan evaluasi terhadap berbagai program yang dijalankan kelompoknya, mulai dari pelestarian lingkungan pesisir hingga upaya perlindungan kawasan pantai.
“Beberapa waktu lalu kami dinilai atas dedikasi dalam pelestarian lingkungan dan perlindungan kawasan pantai. Alhamdulillah, kini penghargaan itu telah kami terima,” ujar Haridman kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Selama hampir 14 tahun berkarya, LPPL Amping Parak tidak hanya fokus pada rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman vegetasi pantai. Kelompok ini juga aktif melakukan konservasi penyu, menggelar edukasi lingkungan kepada masyarakat dan pelajar, serta memperkuat kapasitas warga dalam menghadapi potensi bencana tsunami yang sewaktu-waktu dapat terjadi di kawasan pesisir barat Sumatera.
Konsistensi tersebut menjadikan LPPL Amping Parak sebagai salah satu komunitas lingkungan yang dikenal luas. Berbagai penghargaan, mulai dari tingkat daerah, nasional hingga internasional, telah berhasil diraih sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi mereka dalam menjaga kelestarian alam.
Meski demikian, Haridman menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama perjuangan organisasi yang dipimpinnya.
“Penghargaan itu hanya pemanis. Tujuan kami hanya satu, yaitu pelestarian lingkungan. Jika kemudian mendapat apresiasi dari masyarakat atau lembaga, tentu kami bersyukur. Yang jelas, mari bersama-sama menjaga dan melestarikan alam serta lingkungan,” katanya.
Menurutnya, menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar kawasan pesisir tetap lestari sekaligus memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap ancaman bencana alam.
Pengakuan dari program yang didukung UNESCO tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi berbagai komunitas lingkungan lainnya untuk terus bergerak. Keberhasilan LPPL Amping Parak membuktikan bahwa aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak besar, tidak hanya bagi masyarakat sekitar, tetapi juga mendapat pengakuan di tingkat dunia.
Dengan semangat gotong royong yang terus dijaga, LPPL Amping Parak berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan. Sebab, menjaga alam hari ini bukan sekadar melindungi ekosistem, tetapi juga menjadi investasi penting bagi keselamatan dan masa depan masyarakat pesisir.













