Kabut Asap Pengaruhi Kualitas Udara Pesisir Selatan, Warga Diminta Waspada

PESISIR SELATAN — Kabut asap mulai menjadi perhatian di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dalam beberapa hari terakhir, kondisi atmosfer di sejumlah wilayah daerah itu dipengaruhi kabut asap yang berpotensi menurunkan kualitas udara dan meningkatkan konsentrasi partikulat di udara.

Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kabut asap terlihat semakin pekat dan aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari.

Penggiat Lingkungan Hidup dari Yayasan Gajah Sumatera sekaligus pengurus DPW Lembaga Pemerhati Lingkungan Hidup (LPLH) Provinsi Sumatera Barat asal Pesisir Selatan, Darpius Indra, mengatakan berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer dan pemantauan kualitas udara pada 6–8 September 2026, secara umum kualitas udara di Pesisir Selatan masih berada pada kategori sedang.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah dan waktu berada dalam kondisi yang sama.

“Secara umum kualitas udara di Pesisir Selatan berada pada kategori sedang. Namun, pada waktu dan lokasi tertentu kualitas udara dapat meningkat menjadi tidak sehat, terutama akibat peningkatan konsentrasi partikulat PM2.5 dan PM10,” ujar Darpius di Painan, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, keberadaan kabut asap perlu menjadi perhatian karena kondisi kualitas udara dapat berubah seiring perkembangan cuaca, arah angin dan sumber asap.

Darpius menyebut, kabut asap yang memengaruhi Pesisir Selatan dapat berasal dari sumber lokal maupun asap kiriman dari wilayah provinsi tetangga. Kondisi tersebut membuat pemantauan kualitas udara secara berkala menjadi penting untuk mengetahui perkembangan situasi.

“Karena itu, diperlukan pemantauan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kualitas udara dan potensi dampaknya terhadap masyarakat,” katanya.

Ia menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah antisipasi sejak dini, terutama dengan meningkatkan pemantauan kualitas udara di titik-titik yang berpotensi terdampak kabut asap.

Selain itu, informasi mengenai perkembangan kualitas udara juga dinilai penting disampaikan kepada masyarakat secara terbuka agar warga dapat menyesuaikan aktivitas mereka dengan kondisi udara.

Darpius mengingatkan masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kabut asap semakin pekat. Langkah tersebut terutama penting bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara.

“Pemerintah daerah perlu meningkatkan pemantauan kualitas udara, kewaspadaan terhadap dampak kesehatan masyarakat, serta mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan apabila kabut asap semakin pekat,” ucapnya.

Menurut Darpius, partikulat PM2.5 dan PM10 menjadi salah satu perhatian dalam kondisi kabut asap. Jika konsentrasinya meningkat dan paparan berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara perlu mendapat perhatian lebih ketika kondisi udara memburuk.

Ia berharap persoalan kabut asap tidak hanya ditangani ketika kualitas udara sudah masuk kategori tidak sehat. Pemantauan dan langkah pencegahan perlu dilakukan sejak kondisi mulai menunjukkan perubahan.

“Jangan menunggu sampai kondisi udara memburuk baru dilakukan tindakan. Pemantauan dan kewaspadaan perlu dilakukan sejak dini,” tuturnya.

Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak panik, tetapi tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Ketika jarak pandang mulai berkurang akibat kabut asap atau udara terasa semakin tidak nyaman, aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi.

Kondisi kualitas udara juga dapat berubah dalam waktu relatif singkat mengikuti dinamika atmosfer. Karena itu, pemantauan secara berkala menjadi kunci agar masyarakat memperoleh informasi yang sesuai dengan kondisi terkini.

Darpius berharap seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat, bersama-sama meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi penurunan kualitas udara.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan dapat mengambil langkah perlindungan ketika kualitas udara mengalami penurunan,” pungkasnya.

Dengan kewaspadaan dan pemantauan yang lebih intensif, potensi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat di Pesisir Selatan diharapkan dapat ditekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed