Kementerian Ekraf Dorong 80 Pelaku Kuliner Pesisir Selatan Bangkit Pascabencana

PESISIR SELATAN — Pemulihan ekonomi masyarakat Pesisir Selatan (Pessel) pascabencana tidak hanya dilakukan melalui pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga dengan memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghidupkan kembali usaha mereka.

Upaya itu dilakukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui program Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Pesisir Selatan, Selasa-Rabu (15–16/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program “Ekraf Peduli: Pulih Bersama, Bangkit Berdaya” yang diarahkan untuk membantu pelaku ekonomi kreatif terdampak bencana agar kembali produktif sekaligus memiliki kapasitas usaha yang lebih kuat.

Sebanyak 80 pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner ambil bagian dalam pelatihan tersebut. Peserta dibagi dalam dua batch, masing-masing 40 orang per hari, sehingga proses pembekalan dan pendampingan dapat berjalan lebih efektif.

Kegiatan secara resmi dibuka Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Pesisir Selatan, Ronald Bernando bersama Kepala Subdirektorat Tata Kelola Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif, Mulyanto.

Mulyanto mengatakan, Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk mempercepat pemulihan dan rehabilitasi usaha pelaku ekonomi kreatif yang terdampak bencana alam.

“Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih bertujuan untuk mendukung percepatan pemulihan dan rehabilitasi usaha pelaku ekonomi kreatif pascabencana alam,” ujar Mulyanto.

Menurutnya, pemulihan tidak cukup hanya dengan mengembalikan sarana usaha yang rusak. Pelaku ekonomi kreatif juga perlu mendapatkan penguatan kapasitas agar mampu mengembangkan produk, mengelola usaha dan kembali bersaing di pasar.

Karena itu, program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses rekonstruksi ekonomi daerah.

Pelatihan menghadirkan praktisi kuliner Harti Ningsih, Sekretaris Koperasi Wanita Ikaboga Kota Padang sekaligus anggota Himpunan Pengusaha Rendang Minangkabau (HIPERMI) Kota Padang.

Para peserta mendapatkan materi mengenai pengembangan ekonomi kreatif subsektor kuliner, terutama inovasi produk, pemanfaatan potensi bahan lokal serta peningkatan mutu dan kualitas produk.

Selain kemampuan mengolah dan mengembangkan produk, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai manajemen usaha. Materinya mencakup pencatatan keuangan dasar hingga strategi pengembangan usaha agar dapat tumbuh dan bertahan secara berkelanjutan.

Kepala Disparbudpora Pesisir Selatan, Ronald Bernando menyambut baik program tersebut. Ia menilai penguatan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat setelah bencana.

Ronald juga mengingatkan agar program pemulihan tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, pemerintah daerah, pemerintah pusat, pelaku usaha dan berbagai elemen masyarakat perlu membangun kerja sama agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.

“Kolaborasi adalah kunci. Kita tidak boleh lagi bekerja secara sektoral. Semua elemen harus menyatu agar program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat langsung,” katanya.

Ia berharap peserta tidak berhenti pada mengikuti pelatihan, tetapi menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk memperbaiki kualitas produk dan tata kelola usaha masing-masing.

“Kami berharap para peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan ini dengan baik sehingga mampu menghadirkan hasil yang positif bagi kebangkitan ekonomi keluarga dan daerah,” ucap Ronald.

Seorang peserta Rina (48), mengaku pelatihan tersebut memberikan semangat baru bagi pelaku usaha kuliner yang sempat terdampak bencana.

Menurutnya, materi yang diberikan tidak hanya membantu peserta menghasilkan inovasi dari bahan baku lokal, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan usaha yang selama ini menjadi salah satu tantangan pelaku UMKM.

“Pelatihan ini memberikan dorongan semangat baru bagi kami yang sempat terdampak akibat bencana. Kami tidak hanya diajarkan cara berinovasi mengolah potensi bahan lokal agar punya nilai jual lebih tinggi, tetapi juga diajari manajemen keuangan sederhana yang sangat kami butuhkan,” katanya.

“Ini jadi bekal berharga untuk membangkitkan kembali usaha kami,” tambahnya.

Program Ekraf Peduli merupakan rangkaian intervensi berkelanjutan untuk mengembalikan kemampuan produktif masyarakat terdampak bencana di wilayah Sumatera.

Program tersebut menyasar pelaku ekonomi kreatif terdampak di 29 kabupaten/kota yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Dengan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah, program tersebut diharapkan tidak hanya membantu pelaku usaha kembali beraktivitas, tetapi juga mendorong mereka memiliki produk yang lebih berkualitas, tata kelola usaha yang lebih baik dan daya saing yang lebih kuat.

Bagi Pesisir Selatan, penguatan sektor kuliner menjadi salah satu langkah untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat. Potensi bahan lokal dan kreativitas pelaku usaha diharapkan dapat menjadi modal untuk menggerakkan kembali roda ekonomi keluarga sekaligus membuka peluang usaha yang lebih luas pascabencana.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *