SOLOK – Anggota DPR RI Komisi VIII, Lisda Hendrajoni, mengajak kelompok Yasinan tidak hanya menjadi wadah memperkuat nilai-nilai keagamaan, tetapi juga berperan aktif menjaga persaudaraan, membangun ketahanan keluarga, dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Lisda saat menghadiri kegiatan silaturahmi bertajuk NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) Goes to Nagari bersama kelompok Yasinan di Nagari Koto Hilalang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Rabu (21/10/2026).
Mengusung subtema “Pendampingan dan Penguatan Kelompok Yasinan”, kegiatan itu berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi Lisda untuk berdialog langsung dengan para ibu, sekaligus memperkuat peran kelompok Yasinan sebagai bagian penting dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat nagari.
Suasana pertemuan semakin cair ketika Lisda mengawali kegiatan dengan membacakan pantun. Sapaan melalui pantun itu mencerminkan kebahagiaannya dapat bersilaturahmi dan bertatap muka langsung dengan ibu-ibu di Nagari Koto Hilalang.
Di hadapan para peserta, Lisda menegaskan bahwa kelompok Yasinan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kegiatan rutin membaca Al-Qur’an dan berdoa bersama. Di dalamnya terdapat nilai kepedulian, kebersamaan, dan semangat saling membantu yang perlu terus dirawat.
Menurutnya, kekuatan sebuah kelompok Yasinan tidak semata-mata diukur dari jumlah anggota yang hadir dalam setiap pertemuan, melainkan dari seberapa erat persaudaraan yang terbangun dan seberapa besar manfaat yang dirasakan anggotanya.
“Kelompok Yasinan yang kuat itu bukan hanya dilihat dari seberapa banyak anggota yang hadir, tetapi apakah anggotanya merasa diperhatikan, persaudaraannya terjaga, dan kegiatannya membawa manfaat nyata bagi sesama. Kalau ada anggota yang sakit atau tertimpa musibah, kita hadir untuk saling menguatkan,” ujar Lisda.
Ia menilai, kepedulian terhadap sesama merupakan salah satu bentuk nyata pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kelompok Yasinan diharapkan mampu menjadi tempat bagi setiap anggota untuk berbagi cerita, mencari dukungan, serta mendapatkan kekuatan ketika menghadapi kesulitan.
Bagi Lisda, kebersamaan yang terpelihara melalui kegiatan keagamaan dapat menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan peduli.
Selain memperkuat hubungan antarsesama anggota, Lisda menyoroti peran strategis perempuan dalam membentuk karakter generasi penerus. Ia mengingatkan bahwa ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anak, tempat nilai-nilai moral, kesabaran, dan perilaku baik mulai ditanamkan sejak dini.
Menurutnya, pendidikan keluarga tidak selalu harus dilakukan melalui nasihat panjang. Keteladanan dalam tindakan sederhana justru menjadi pelajaran yang paling mudah ditangkap dan ditiru oleh anak-anak.
Karena itu, ia mengajak para ibu membiasakan hal-hal positif di rumah, mulai dari mengucapkan salam, berdoa bersama anak dan cucu, hingga mengajarkan sopan santun serta kepedulian terhadap orang lain.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, Lisda juga mengingatkan pentingnya pendampingan terhadap anak saat menggunakan handphone. Orang tua perlu membantu anak mengenali informasi yang benar, tidak mudah mempercayai berita bohong atau hoaks, serta menghindari perilaku yang dapat menyakiti orang lain melalui media sosial.
Ia menilai, tantangan mendidik anak pada masa sekarang membutuhkan perhatian dan keterlibatan orang tua secara berkelanjutan. Keluarga harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar membedakan perilaku yang baik dan buruk, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital.
Dalam kesempatan itu, Lisda turut mengingatkan pentingnya menjaga lisan, membersihkan hati dari prasangka, dan memelihara persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Sejalan dengan nilai-nilai adat Minangkabau yang menjunjung tinggi musyawarah dan saling menghormati, ia mengajak para anggota kelompok Yasinan agar menyikapi perbedaan pendapat dengan bijaksana. Persoalan kecil, kata Lisda, hendaknya diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan tabayun agar tidak berkembang menjadi kesalahpahaman yang merusak kebersamaan.
“Mari kita pegang tiga hal, jaga lisan supaya tidak melukai, jaga hati supaya tidak mudah berprasangka, dan jaga kebersamaan supaya tidak ada anggota yang merasa ditinggalkan. Menahan satu kalimat yang tidak baik itu kadang berat, tetapi kalau bisa kita lakukan, suasana akan terasa sangat nyaman,” tutur Lisda.
Tak berhenti pada penguatan spiritual dan sosial, Lisda juga mendorong kelompok Yasinan menjadi ruang tumbuhnya kemandirian ekonomi keluarga.
Ia mengajak para ibu untuk saling mendukung usaha kecil yang dijalankan sesama anggota, seperti usaha kuliner, menjahit, dan perdagangan. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pembelian produk, promosi dari mulut ke mulut, maupun membantu memperluas jaringan pemasaran.
Menurutnya, kebersamaan yang telah terbangun dalam kelompok Yasinan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi apabila disertai semangat saling membantu dan kepedulian terhadap usaha anggota lainnya.
Ajakan itu sejalan dengan nilai tolong-menolong sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 2. Melalui semangat tersebut, kelompok Yasinan diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan spiritual, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan keluarga.
Sebagai langkah konkret, Lisda mencetuskan gerakan “Yasinan Peduli dan Berdaya” bagi kelompok Yasinan di Nagari Koto Hilalang.
Melalui gerakan tersebut, pengurus kelompok Yasinan diajak menyediakan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit dalam setiap pertemuan untuk berbagi pengetahuan praktis yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Materi yang dibahas dapat mencakup pengasuhan anak, kesehatan keluarga, hingga pengelolaan keuangan rumah tangga. Dengan cara sederhana tersebut, pertemuan rutin Yasinan diharapkan menjadi ruang belajar bersama yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para anggota.
Lisda juga mengingatkan para ibu agar tidak mengabaikan kesehatan diri sendiri. Ia mendorong penerapan pola makan bergizi, pemenuhan kebutuhan cairan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Menurutnya, perempuan yang sehat akan memiliki kesempatan lebih besar untuk mendampingi keluarga, menjalankan berbagai aktivitas, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial masyarakat.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pembacaan pantun penutup. Suasana kebersamaan yang terbangun sepanjang pertemuan menjadi pengingat bahwa kekuatan masyarakat dapat tumbuh dari lingkungan terkecil, termasuk melalui kelompok-kelompok keagamaan di tingkat nagari.
Lisda berharap para ibu terus percaya pada pentingnya peran mereka dalam keluarga dan masyarakat. Sebab, dari rumah nilai-nilai kebaikan ditanamkan, sementara melalui kebersamaan kelompok Yasinan, kepedulian dan persaudaraan dapat terus dijaga.
Melalui kegiatan NGOPI Goes to Nagari, ia mendorong kelompok Yasinan agar semakin berdaya, tidak hanya dalam memperkuat kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam membangun keluarga yang harmonis, meningkatkan kepedulian sosial, dan membuka peluang ekonomi bagi anggotanya.















