PESISIR SELATAN — Perjuangan Resmiweri (47), korban kecelakaan tunggal mobil odong-odong yang membawa rombongan ibu-ibu Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Nagari Sungai Tunu Barat, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan, masih berlanjut.
Hingga Jumat (6/11/2026), Resmiweri masih terbaring di ruang perawatan ICU RSUP Dr. M. Djamil Padang dalam kondisi belum sadarkan diri. Di tengah kondisi tersebut, keluarga juga dihadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang hingga kini disebut belum ditanggung Jasa Raharja maupun BPJS Kesehatan.
Kecelakaan itu terjadi di pendakian Bukit Pulai, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 07.30 WIB.
Saat kejadian, mobil odong-odong tanpa nomor polisi yang dikemudikan Amirudin (59) membawa sekitar 20 orang rombongan ibu-ibu majelis taklim. Mereka dalam perjalanan menuju Pantai Sago untuk mengikuti kegiatan tablig akbar atau dakwah wisata BKMT Provinsi Sumatera Barat.
Perjalanan rombongan berubah menjadi petaka ketika kendaraan tersebut mengalami kesulitan saat melewati tanjakan. Saat berupaya mendahului truk di depannya, kendaraan kehilangan tenaga hingga bergerak mundur dan akhirnya menghantam dinding bukit.
Situasi panik terjadi di dalam kendaraan. Resmiweri yang berada di dalam odong-odong nekat melompat keluar ketika kendaraan bergerak mundur. Ia kemudian terjatuh di tepi jalan dan mengalami luka serius.
Resmiweri merupakan warga Kampung Muara Pandan, Nagari Sungai Tunu Barat. Akibat kecelakaan tersebut, ia mengalami patah kaki kanan, patah rahang serta luka memar dan robek di bagian belakang kepala.
Ia sempat mendapatkan penanganan di IGD RSUD M. Zein Painan sebelum dirujuk ke RS Yos Sudarso. Karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, Resmiweri kemudian dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Kondisinya hingga kini masih memprihatinkan. Kaki yang patah telah menjalani operasi. Sementara patah pada bagian rahang belum dioperasi. Bagian pinggang yang diduga turut mengalami patah tulang juga masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Sebelumnya, Resmiweri juga mendapat penanganan terhadap pendarahan di bagian kepala. Selang untuk mengeluarkan cairan akibat pendarahan di otak telah dilepas. Namun, pasien masih belum sadarkan diri dan harus menjalani perawatan intensif.
Selain Resmiweri, dua penumpang lainnya juga mengalami luka. Emidawati (57) mengalami pembengkakan pada bagian kening, sedangkan Lenida Erlima (43) mengalami luka lecet dan memar pada tangan serta bahu.
Persoalan lain kini ikut membayangi keluarga Resmiweri. Biaya perawatan korban disebut tidak ditanggung Jasa Raharja maupun BPJS Kesehatan. Hal itu dikaitkan dengan kendaraan odong-odong yang merupakan angkutan tidak resmi serta kecelakaan yang terjadi merupakan kecelakaan tunggal.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dari Fraksi PAN, Novermal. Ia mengatakan keluarga korban saat ini membutuhkan dukungan, baik secara moril maupun untuk membantu pembiayaan pengobatan.
“Derita Ibu Resmiweri bertambah pedih karena biaya pengobatannya tidak ditanggung Jasa Raharja dan BPJS Kesehatan. Informasinya, karena odong-odong merupakan angkutan tidak resmi dan kecelakaan yang terjadi merupakan kecelakaan tunggal,” ujar Novermal.
Menurutnya, persoalan biaya tidak boleh membuat perhatian terhadap kondisi korban terabaikan. Resmiweri saat ini masih membutuhkan perawatan medis dan dukungan keluarga di tengah kondisinya yang belum sadar.
Novermal pun mengajak masyarakat untuk ikut mendoakan kesembuhan korban sekaligus membantu meringankan beban keluarga.
“Untuk kesembuhan Ibu Resmiweri, mari kita sama-sama mendoakan yang terbaik. Dan bagi masyarakat yang berkenan, mari bersama-sama kita bantu biaya pengobatannya,” katanya.
Sebelumnya, kepedulian terhadap para korban juga datang dari Ketua BKMT Kabupaten Pesisir Selatan, Dr. Hj. Lisda Hendrajoni, S.E., M.M.Tr. Ia turun langsung menjenguk para korban di rumah sakit untuk memberikan penguatan moril kepada korban dan keluarga.
Kehadiran tersebut menjadi bentuk dukungan di tengah suasana duka yang masih dirasakan keluarga korban. Lisda juga memberikan doa dan semangat agar para korban segera pulih, terutama Resmiweri yang masih menjalani perawatan intensif di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Kecelakaan tersebut menyisakan duka bagi rombongan jamaah taklim Sungai Tunu Barat yang semula berangkat dengan niat mengikuti kegiatan keagamaan di Pantai Sago. Perjalanan yang diharapkan menjadi momen kebersamaan justru berakhir dengan musibah dan perjuangan panjang untuk pemulihan.
Kini, keluarga masih menaruh harapan besar agar Resmiweri segera sadar dan kembali pulih. Di tengah kebutuhan pengobatan yang masih berjalan, doa dan kepedulian masyarakat menjadi kekuatan tambahan bagi keluarga untuk melewati masa sulit tersebut.













