PADANG — Senyum polos Kalandra Muhammad Azis masih terlihat di tengah perjuangan panjang yang harus dijalaninya. Usianya baru 4 tahun 8 bulan. Di saat anak-anak seusianya seharusnya bebas bermain, berlari dan menikmati masa kanak-kanak, Kalandra justru harus akrab dengan ruang perawatan, obat-obatan dan berbagai tindakan medis.
Selama satu tahun tujuh bulan terakhir, sebagian besar waktu Kalandra dihabiskan untuk menjalani pengobatan. Tubuh kecilnya harus bertahan menghadapi penyakit serius yang tergolong langka.
Kalandra diketahui menderita Mixed Phenotype Acute Leukemia (MPAL), salah satu jenis leukemia akut yang jarang ditemukan. Saat ini, Kalandra masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, bersama ibunya, Mardiyah Khairani.
Sementara sang ayah, Azis Wahyudi, harus tetap berada di kampung halaman untuk bekerja. Dari jauh, ia terus berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mencari jalan agar putra semata wayangnya mendapatkan pengobatan terbaik.
Azis mengatakan, Kalandra merupakan warga ber-KTP Bukittinggi, namun selama ini berdomisili di Kota Padang, Sumatera Barat.
“Kalandra harus berhadapan dengan Mixed Phenotype Acute Leukemia (MPAL), salah satu jenis leukemia akut yang tergolong sangat langka,” kata Azis kepada wartawan, Rabu (26/8/2026).
Menurut penjelasan dokter yang menangani Kalandra di Rumah Sakit Kanker Dharmais, penyakit tersebut menyerang sumsum tulang. Kondisi itu menyebabkan produksi sel darah putih secara berlebihan, namun sel-sel tersebut tidak berkembang secara sempurna.
Akibatnya, sel-sel abnormal tersebut memenuhi ruang yang seharusnya ditempati sel darah sehat. Perlahan, kondisi tersebut dapat melemahkan sistem pertahanan tubuh Kalandra sehingga ia harus menjalani rangkaian pengobatan dan perawatan dalam waktu panjang.
Perjalanan pengobatan itu bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga membuat keluarga harus hidup terpisah.
Mardiyah bersama Kalandra harus tinggal di Jakarta demi menjalani pengobatan. Di sisi lain, Azis tetap berada di kampung halaman untuk bekerja dan mencari nafkah.
Jarak yang memisahkan bukan berarti perjuangan berhenti. Setiap hari, Azis terus berusaha mendapatkan biaya pengobatan bagi anaknya, sembari berharap Kalandra bisa segera melewati masa sulit tersebut.
Kini, perjuangan itu memasuki fase yang lebih berat.
Berdasarkan rekomendasi dokter, Kalandra membutuhkan tindakan transplantasi sumsum tulang sebagai bagian dari upaya pengobatan penyakit yang dideritanya. Namun, keluarga menghadapi persoalan besar karena tindakan medis yang dibutuhkan untuk kondisi Kalandra belum dapat dilakukan di rumah sakit di Indonesia.
Karena itu, Kalandra disebut harus menjalani tindakan medis di luar negeri.
Persoalan biaya kemudian menjadi tantangan berikutnya. Besarnya kebutuhan biaya pengobatan membuat keluarga sederhana ini tidak mampu menanggungnya seorang diri.
“Kami tidak menyerah. Tapi tangan kami sendirian belum cukup kuat untuk mengangkat beban ini,” ucap Azis.
Di tengah keterbatasan tersebut, keluarga Kalandra kini mengetuk pintu kepedulian masyarakat.
Mereka berharap kepada masyarakat, komunitas, lembaga sosial, para donatur, maupun pihak lainnya dapat memberikan dukungan untuk membantu biaya pengobatan Kalandra di luar negeri.
Bagi keluarga ini, bantuan sekecil apa pun memiliki arti sangat besar. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang anak kecil untuk mendapatkan kesempatan sembuh dan kembali menikmati masa kanak-kanaknya.
Keluarga Kalandra berharap perjuangan tersebut tidak harus mereka jalani sendirian.
Bantuan untuk pengobatan Kalandra dapat disalurkan melalui:
Bank BRI
Nomor Rekening: 738401012113539
Atas Nama: Mardhiyah Khairani (Ibu Kalandra Muhammad Azis)
Untuk informasi dan konfirmasi lebih lanjut, masyarakat atau para donatur dapat menghubungi ayah Kalandra, Azis Wahyudi, melalui nomor Hp 082382368674.
Di balik tubuh mungil Kalandra, ada perjuangan besar untuk bertahan. Ia masih memiliki masa depan yang panjang untuk dijalani. Dan kini, keluarga sangat berharap kepedulian banyak orang untuk dapat menjadi jembatan bagi Kalandra menuju pengobatan yang dibutuhkannya.
Semoga langkah kecil dari banyak uluran tangan dapat menjadi harapan besar bagi Kalandra untuk kembali tersenyum, bermain dan menjalani kehidupan seperti anak-anak seusianya. (*)
















