Kemenag Pesisir Selatan Usulkan Perbup Nagari Mengaji, Materi Tak Sekadar Baca Al-Qur’an

PESISIR SELATAN — Program Unggulan Nagari Mengaji yang digagas Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni bersama Wakil Bupati Risnaldi Ibrahim mulai didorong ke arah yang lebih terstruktur. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pesisir Selatan mengusulkan Peraturan Bupati (Perbup) Nagari Mengaji sebagai landasan penguatan program tersebut di tingkat nagari.

Kepala Kantor Kemenag Pesisir Selatan Yufrizal mengatakan, draf Perbup Nagari Mengaji telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan melalui Asisten I Bidang Pemerintahan dan Hukum, Syahrizal Antoni.

“Yang sudah kita lakukan sekarang adalah mengusulkan Perbup. Draf Perbup Nagari Mengaji sudah kita berikan kepada Bupati melalui Asisten I, Bapak Syahrizal Antoni,” kata Yufrizal saat menerima kunjungan PWI Pessel di kantornya, Senin (29/9/2026).

Menurut Yufrizal, regulasi tersebut diperlukan agar pelaksanaan Nagari Mengaji tidak berhenti sebatas kegiatan belajar membaca Al-Qur’an. Program tersebut diharapkan memiliki arah pembinaan keagamaan yang jelas, mulai dari kemampuan membaca Al-Qur’an, pemahaman dasar ajaran Islam, pembentukan akhlak hingga praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan, penguatan Nagari Mengaji akan bersentuhan dengan berbagai bentuk pendidikan keagamaan Islam yang selama ini telah berkembang di tengah masyarakat. Di antaranya Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKQ), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Ta’limul Qur’an Lil Aulad (TQA), serta Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT).

Karena itu, materi yang disiapkan tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga diarahkan untuk membentuk kebiasaan dan karakter keagamaan anak.

“Jadi, bukan hanya mengaji. Ada pembelajaran akhlak dan budi pekerti, kemudian praktik ibadah dan materi-materi keagamaan lainnya. Harapannya anak-anak kita tidak hanya bisa membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Yufrizal menyebut, materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan jenjang dan kebutuhan peserta didik. Materi tersebut antara lain penguatan akhlak, tata cara shalat wajib dan sunnah, shalat berjamaah, pengurusan jenazah, doa-doa harian hingga hafalan surat-surat pendek.

Anak-anak juga akan didorong memiliki kemampuan menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui kegiatan muhadarah atau latihan berpidato.

Menurut Yufrizal, muhadarah bukan sekadar latihan berbicara di depan orang banyak. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana membangun keberanian, kemandirian dan keterampilan sosial anak sekaligus melatih mereka menyampaikan pesan keagamaan dengan bahasa yang baik dan santun.

“Anak-anak juga perlu dibekali dengan praktik. Bagaimana shalat, bagaimana shalat berjamaah, bagaimana shalat jenazah, kemudian belajar menyampaikan ceramah atau muhadarah. Itu semua bagian dari pembentukan keterampilan dan karakter,” ucapnya.

Penguatan tersebut juga mengacu pada arah kurikulum Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Kementerian Agama. Dalam Kepdirjen Pendidikan Islam Nomor 3811 Tahun 2025, Kemenag menetapkan kurikulum dan standar kompetensi lulusan MDT Ula, Wustha dan Ulya, termasuk standar isi, alur perkembangan pembelajaran dan capaian pembelajaran.

Secara umum, struktur kurikulum MDT mencakup sejumlah mata pelajaran keagamaan seperti Al-Qur’an, Hadis, Akidah, Akhlak, Fikih, Tarikh Islam dan Bahasa Arab.

Yufrizal mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan buku pedoman pelaksanaan Nagari Mengaji yang kini telah memasuki edisi atau tahap ketiga. Buku tersebut selanjutnya akan dibagikan ke seluruh kecamatan sebagai salah satu panduan bagi penyelenggara kegiatan di tingkat nagari.

Ia berharap penguatan Nagari Mengaji dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun sumber daya manusia Pesisir Selatan.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Pembentukan karakter dan kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi Pesisir Selatan menghadapi perkembangan zaman.

“Kalau anak-anak kita sejak dini sudah dibekali ilmu agama, akhlak dan keterampilan ibadah, insyaallah itu akan menjadi bekal bagi mereka dalam menjalani kehidupan. Dan inilah yang perlu kita kuatkan bersama,” tuturnya.

Ketua PWI Pesisir Selatan, Robby Octora Romanza menyambut baik langkah Kemenag dalam memperkuat Program Nagari Mengaji. Menurutnya, pendidikan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Robby mengatakan, pers juga memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemberitaan yang informatif, edukatif dan berimbang.

“Kami dari PWI Pesisir Selatan tentu mendukung program-program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah, baik pembangunan fisik maupun pembangunan sumber daya manusia. Sebab, pembangunan manusia ini sangat penting untuk membentuk mental dan karakter masyarakat,” ujar Robby.

Ia menilai Program Nagari Mengaji memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi dalam membentuk karakter anak sejak dini, terutama melalui penanaman nilai agama, kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Karena itu, menurut Robby, sinergi antara pemerintah daerah, Kemenag, pemerintah kecamatan, pemerintah nagari, tokoh agama, guru mengaji, masyarakat dan insan pers perlu terus diperkuat.

“PWI akan terus berupaya mengambil bagian dalam mendukung pembangunan daerah melalui fungsi pers. Program yang baik perlu diketahui masyarakat, tetapi pemberitaannya juga harus tetap mengedepankan informasi yang benar, berimbang dan mencerdaskan,” katanya.

Robby juga menyampaikan apresiasi kepada Kakan Kemenag Pesisir Selatan Yufrizal beserta jajaran yang telah menerima kunjungan PWI dalam suasana penuh keakraban.

Ia berharap komunikasi antara Kemenag dan insan pers dapat terus terjalin sehingga berbagai program yang menyentuh kepentingan masyarakat dapat diketahui secara luas.

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara Kemenag dan PWI Pesisir Selatan. Di tengah upaya pemerintah daerah membangun berbagai sektor, penguatan pendidikan keagamaan di tingkat nagari menjadi bagian lain yang tidak kalah penting.

Sebab, pembangunan Pesisir Selatan tidak hanya berbicara tentang jalan, jembatan dan fasilitas publik, tetapi juga tentang bagaimana menyiapkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, keterampilan dan kepedulian sosial. Dari nagari, nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh dan menjadi bekal generasi muda dalam melanjutkan pembangunan daerah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed