KOPI Pessel Bongkar Dapur RSUD M. Zein Painan: Pelayanan hingga Percepatan Digitalisasi Dikupas

PESISIR SELATAN — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pesisir Selatan kembali menggelar forum Komunikasi Publik untuk Pesisir Selatan (KOPI Pessel). Kali ini, forum komunikasi dan kolaborasi antara insan pers dan pemerintah daerah tersebut digelar bersama RSUD Dr. M. Zein Painan.

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi dua arah antara jajaran rumah sakit dan insan pers, terutama dalam mengawal program pelayanan kesehatan serta agenda pembangunan pemerintah daerah.

Direktur RSUD Dr. M. Zein Painan, dr. Dona Hamrita, M.Kes, menyampaikan apresiasi kepada PWI Pesisir Selatan yang telah menginisiasi pertemuan tersebut.

Menurutnya, komunikasi yang aktif antara rumah sakit dan wartawan penting agar informasi mengenai pelayanan maupun berbagai persoalan yang terjadi di rumah sakit dapat tersampaikan secara utuh kepada masyarakat.

“Saya menyadari jika tidak searah atau tidak sinkron dengan teman-teman wartawan, tentunya kegiatan kita tidak diketahui masyarakat secara luas. Namun, bukan hanya kegiatan yang positif saja, kami juga membuka ruang di lapangan terkait hal-hal apa saja yang terjadi,” kata Dona, Kamis (1/10/2026).

Ia berharap komunikasi dua arah yang terbangun melalui KOPI Pessel dapat semakin mempererat hubungan antara RSUD M. Zein dan insan pers, sekaligus mendukung kemajuan pelayanan kesehatan di daerah.

Dalam kesempatan itu, Dona juga membeberkan kondisi keuangan RSUD M. Zein Painan. Ia menyebut rumah sakit sebelumnya memiliki utang sekitar Rp15 miliar, yang sebagian besar berasal dari kebutuhan obat-obatan.

“Bagaimanapun, ini tetap kita cukupkan agar pasien pulang dengan aman dan tidak ada persoalan,” ujarnya.

Dona mengatakan, utang tahun 2025 kini telah dilunasi. Sementara itu, utang yang masih berjalan saat ini berada di kisaran Rp11 miliar.

Ia menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola, namun manajemen rumah sakit telah mengingatkan agar angka utang tidak terus bertambah. Pihaknya menargetkan hingga tutup buku nanti, utang RSUD M. Zein dapat ditekan di bawah Rp15 miliar.

“Kendala kita sebenarnya ada di klaim BPJS dan Baznas. Sampai saat ini Baznas masih memiliki utang sekitar Rp4,5 miliar kepada RSUD M. Zein Painan. Akibatnya, kita menjadi kesulitan meng-cover biaya operasional rumah sakit,” ucapnya.

Meski menghadapi tekanan keuangan, Dona memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas. Ia menegaskan pihak rumah sakit tidak pernah menolak pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan, termasuk peserta BPJS.

“Sebenarnya memang berat dengan kondisi sekarang. Namun demikian, kami berharap pasien tetap harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik. Sampai saat ini kami tidak pernah menolak pasien BPJS,” katanya.

Di sisi lain, RSUD M. Zein juga tengah melakukan pembenahan internal melalui digitalisasi pelayanan. Rumah sakit kini telah memiliki tenaga programmer IT berstatus PNS yang diharapkan mampu memperkuat sistem teknologi informasi.

Dona menyebut sistem digital tersebut juga akan diterapkan secara bertahap di sejumlah layanan, termasuk apotek.

Sebelumnya, kata dia, proses pelayanan resep obat masih terkendala karena sistem yang digunakan masih manual dan hanya ditangani satu petugas. Kondisi itu turut menyebabkan waktu tunggu pasien menjadi lebih lama.

“Dengan sistem digital ini, mudah-mudahan setelah ini akan lebih mempercepat proses. Secara perlahan akan kita benahi dan perbaiki bagaimana ke depan wajah RSUD M. Zein Painan ini terlihat bagus dan lebih baik, sehingga pasien yang datang merasa aman dan nyaman saat berobat,” tutur Dona.

Ia menegaskan, prinsip yang diterapkan dalam memimpin rumah sakit tersebut adalah terus melakukan perubahan dan perbaikan.

“Prinsip saya adalah kerja, rubah dan perbaiki,” ujarnya.

Pembenahan fisik rumah sakit juga masuk dalam agenda berikutnya. Di antaranya perbaikan ruang tunggu poli serta rencana penyediaan lift untuk mendukung akses pasien dan pengunjung.

Dona mengungkapkan, peningkatan pelayanan juga harus diikuti dengan kesiapan rumah sakit menghadapi peningkatan jumlah pasien rawat inap.

Jika sebelumnya jumlah pasien rawat inap berada di kisaran 94 hingga 98 orang, kini jumlahnya telah meningkat menjadi sekitar 120 hingga 140 pasien.

“Kemungkinan banyak pasien umum yang berpindah ke BPJS,” katanya.

Sementara itu, Ketua PWI Pesisir Selatan, Robby Octora Romanza, mengatakan KOPI Pessel merupakan wadah untuk membangun komunikasi berkelanjutan antara pers dan organisasi perangkat daerah maupun instansi pelayanan publik.

Robby menjelaskan, kepengurusan PWI Pesisir Selatan periode 2026-2029 saat ini beranggotakan 23 orang. Ia menegaskan tidak seluruh wartawan di Pesisir Selatan tergabung dalam kepengurusan PWI.

“Kami juga ingin menyampaikan kepada masyarakat secara luas dan khususnya pihak RSUD M. Zein Painan agar nantinya tidak salah kaprah bahwa kawan-kawan yang tergabung dalam kepengurusan PWI Pessel semuanya adalah wartawan. Namun, tidak semua wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik tergabung dalam kepengurusan PWI Pesisir Selatan,” jelasnya.

Menurut Robby, para pengurus PWI Pesisir Selatan berkomitmen menjalankan tugas jurnalistik dengan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta menjaga etika dan marwah organisasi.

Ia berharap hubungan dan sinergi antara insan pers dengan RSUD M. Zein Painan dapat terus terjaga. Melalui KOPI Pessel, PWI juga akan ikut mengawal dan menyampaikan kepada masyarakat berbagai program yang sedang maupun akan dijalankan pemerintah daerah.

“Apalagi di RSUD ini kita memiliki program unggulan Nagari Sehat yang sebelumnya sudah digagas oleh Bupati dan Wakil Bupati Pesisir Selatan. Hal ini tentunya menjadi perhatian dan pengawasan kita bersama,” kata Robby.

Ia menambahkan, pers membutuhkan informasi yang akurat dan berkelanjutan mengenai pelaksanaan program tersebut, termasuk sejauh mana program Nagari Sehat berjalan di tengah masyarakat.

“Kami akan selalu membuka ruang komunikasi dengan pihak RSUD M. Zein Painan terkait program Nagari Sehat ini. Mudah-mudahan setelah diskusi ini, kami pulang nanti tidak dikasih resep obat oleh Bu Direktur, kasih saja kami KOPI,” ujar Robby berseloroh yang disambut gelak tawa peserta.

KOPI Pessel diharapkan tidak berhenti sebagai forum silaturahmi, tetapi menjadi ruang komunikasi yang terbuka antara pers dan pemerintah. Dengan komunikasi yang terbangun, berbagai program, capaian, maupun persoalan pelayanan publik dapat dibahas secara lebih terbuka sehingga masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai perkembangan pembangunan daerah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed