PADANG — Dua hari bukan waktu yang panjang untuk membedah dunia jurnalistik dan organisasi. Namun di ruang Edotel SMKN 9 Padang, Jumat-Sabtu (14-15 Agustus 2026), waktu yang singkat itu terasa penuh. Sebanyak 52 peserta mengikuti setiap sesi Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat dengan serius.
Kegiatan yang menjadi salah satu pintu masuk bagi calon anggota PWI Sumbar itu akhirnya resmi ditutup. Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sumbar, Zul Effendi, menutup rangkaian kegiatan sekaligus menyerahkan sertifikat kepada peserta.
Dua peserta, Altas Maulana dan Dwita Norfalinda, menerima sertifikat secara simbolis. Keduanya juga dipercaya menyampaikan kesan dan pesan mewakili seluruh peserta sebelum kegiatan benar-benar berakhir.
Bagi peserta, sertifikat tersebut bukan sekadar lembar bukti telah mengikuti pelatihan. Lebih dari itu, OKK menjadi bagian penting dari proses untuk mengenal lebih jauh organisasi profesi yang telah menjadi rumah bagi wartawan Indonesia selama puluhan tahun.
Sejak sesi pertama dimulai, suasana di ruang kegiatan terlihat serius. Para peserta yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam duduk mengikuti materi demi materi. Tak banyak yang beranjak dari tempat duduk. Pertanyaan silih berganti muncul dalam setiap sesi, sementara para pemateri mengupas persoalan jurnalistik dan organisasi dari berbagai sudut.
Kegiatan yang sebelumnya dikenal dengan istilah Karya Latih Wartawan (KLW) itu pun tidak sekadar menjadi ruang belajar teknis. OKK menjadi momentum untuk memperkenalkan nilai, aturan, etika, sekaligus tanggung jawab yang melekat pada profesi wartawan dan keanggotaan PWI.
Ketua PWI Sumbar, Widya Navies, dalam sambutan pembukaan yang disampaikan melalui sambungan telepon dan disiarkan menggunakan pengeras suara, menegaskan bahwa OKK tersebut merupakan kesempatan bagi calon anggota untuk mengenal PWI lebih dekat.
“Kami membuka kesempatan seluas-luasnya. Ini OKK gelombang pertama tahun ini untuk kawan-kawan calon anggota PWI Sumbar. Tapi bukan yang terakhir. Insya Allah kita buka lagi. Bisa dua kali, tiga, empat kali dan seterusnya,” ujarnya.
Widya juga menitipkan pesan yang menjadi inti dari profesi wartawan, yakni menjaga marwah organisasi dengan menghasilkan karya jurnalistik yang baik, benar, berimbang, akurat, dan bermanfaat.
“Tulis yang benar, berimbang, dan bermanfaat untuk masyarakat. Karena wartawan PWI adalah penjaga demokrasi dan menyampaikan kebenaran informasi,” katanya.
Materi Padat, Diskusi Mengalir
Selama dua hari kegiatan, peserta tidak dijejali ceramah panjang. Setiap narasumber diberikan waktu sekitar 10 menit untuk menyampaikan pokok materi sebelum dilanjutkan dengan diskusi.
Panel pertama dibuka dengan materi mengenai sejarah lahirnya PWI, serta jejak perjalanan para wartawan senior di Ranah Minang. Materi tersebut disampaikan Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Sumbar sekaligus Ketua Panitia OKK, M. Khudri.
Setelah itu, Sawir Pribadi, Zul Effendi, dan Firdaus Abie mengupas persoalan keorganisasian serta peran Dewan Kehormatan PWI. Sesi yang dimoderatori Romi Delfiano tersebut berlangsung dinamis.
Pertanyaan dari peserta tidak berhenti pada persoalan normatif. Sejumlah pertanyaan tajam diarahkan kepada narasumber, terutama menyangkut dinamika organisasi dan bagaimana anggota PWI menjaga kehormatan profesinya.
Memasuki panel kedua, materi bergeser pada aspek yang lebih dekat dengan pekerjaan sehari-hari wartawan.
Emil Mahmudsyah, Sukri Umar, dan Devi Diany membahas Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Kode Perilaku Wartawan (KPW), Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, hingga hukum pers dan delik pidana yang berkaitan dengan aktivitas jurnalistik, termasuk UU ITE dan UU Perlindungan Anak.
Materi hukum menjadi penting karena kerja jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mencari dan menulis berita, tetapi juga memahami batas-batas hukum serta konsekuensi dari setiap informasi yang dipublikasikan.
Dari Wawancara hingga Menulis Feature
Puncak kegiatan berada pada panel ketiga yang mengupas kemampuan teknis jurnalistik.
Reviandi, Guspa, dan Soesilo berbagi pengalaman mengenai teknik peliputan, wawancara, penulisan berita hingga feature. Sesi tersebut kembali dipandu Romi Delfiano.
Tidak hanya teori semata, para pemateri bahkan banyak membagikan pengalaman yang mereka temui selama menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.
Reviandi bahkan berseloroh bahwa peserta OKK kali ini bukanlah orang-orang yang benar-benar baru mengenal dunia jurnalistik. Ia menyebut, para peserta yang hadir merupakan para senior yang baru bergabung saat ini.
“Kawan-kawan peserta OKK ini ternyata wartawan-wartawan yang sudah berpengalaman. Jadi, saya lebih suka sharing saja,” ucapnya.
Suasana itu sekaligus menunjukkan bahwa OKK tidak selalu menjadi ruang belajar satu arah. Pengalaman para peserta yang telah lebih dahulu bergelut di lapangan ikut memperkaya diskusi.
Pada akhirnya, kegiatan dua hari tersebut bukan hanya tentang sertifikat yang diterima 52 peserta. Ada pesan yang jauh lebih besar, yakni menjadi bagian dari PWI berarti siap menjaga etika, memahami hukum, meningkatkan kompetensi, sekaligus mempertahankan marwah profesi.
Di bawah kepemimpinan Widya Navies, PWI Sumbar menempatkan OKK sebagai salah satu pondasi untuk membentuk anggota yang tidak hanya mampu menulis berita, tetapi juga memahami tanggung jawab sebagai wartawan dan bagian dari organisasi profesi.
Ketika satu per satu peserta menerima sertifikat, rangkaian OKK memang resmi berakhir. Namun bagi 52 peserta, perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar PWI Sumbar justru baru dimulai. (*)












