PESISIR SELATAN – Semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Kenagarian Siguntur, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, justru diwarnai pemandangan yang berbeda.
Di tengah imbauan agar masyarakat mengibarkan Bendera Merah Putih untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan, pemasangan bendera di sejumlah rumah warga di wilayah tersebut terlihat masih minim.
Kondisi itu disoroti tokoh masyarakat Siguntur yang juga anggota DPRD Pesisir Selatan, Robi Binur. Ia menilai, minimnya pemasangan bendera bukan semata-mata kurangnya kesadaran masyarakat terhadap momentum hari kemerdekaan, melainkan berkaitan dengan kondisi ekonomi yang dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Robi, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sebagian masyarakat Siguntur masih belum bisa menikmati kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya.
“Tidak adanya pemasangan bendera oleh masyarakat Siguntur, karena sudah 81 tahun Indonesia merdeka, mereka mengaku belum merasakan merdeka,” ujar Robi, Senin (10/8/2026).
Robi menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat Siguntur yang menurutnya sedang menghadapi tekanan. Mayoritas warga yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan, harus berhadapan dengan harga komoditas yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup.
Ia menyebut gambir dan karet, dua komoditas yang menjadi sumber pendapatan masyarakat setempat, saat ini belum memberikan hasil yang memadai.
“Segala-galanya mahal, ekonomi merosot. Gambir murah, karet murah. Sementara bahan pokok mahal,” katanya.
Menurut Robi, persoalan tersebut menjadi beban tersendiri bagi masyarakat. Di satu sisi, harga kebutuhan pokok terus meningkat, sementara pendapatan dari hasil perkebunan cenderung tidak stabil.
Situasi tersebut membuat petani harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara hasil yang diperoleh belum tentu mampu menutupi seluruh pengeluaran.
Robi Pilih Tak Pasang Bendera
Yang menarik, Robi Binur mengaku dirinya juga tidak memasang Bendera Merah Putih di rumahnya pada momentum HUT ke-81 RI.
Sebagai anggota DPRD sekaligus bagian dari masyarakat Siguntur, ia mengaku tidak ingin mengambil sikap yang justru menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.
“Kenapa di rumah saya tidak saya pasang bendera. Saya takut nanti jadi omongan masyarakat. Apalagi saya seorang anggota DPRD,” ucapnya.
Ia menggambarkan kemungkinan komentar jelek yang muncul dari masyarakat apabila dirinya memasang bendera, sementara sebagian warga lainnya tidak memasangnya.
“Robi tu iyo nyo pasang bendera di rumah e, nyo lah merdeka. (Robi tentu di pasang bendera dirumahnya, dia sudah merdeka),” kata Robi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pemasangan bendera di Siguntur tidak hanya dilihat dari sisi simbolik. Bagi Robi, ada keresahan ekonomi yang lebih dalam dan perlu mendapat perhatian pemerintah.
Bukan Berarti Tak Cinta Indonesia
Robi menegaskan, sikap sebagian masyarakat yang tidak memasang Bendera Merah Putih bukan berarti mereka tidak mencintai Indonesia ataupun tidak menghargai perjuangan para pahlawan.
Menurutnya, masyarakat tetap memiliki rasa nasionalisme. Namun, kecintaan terhadap negara juga diharapkan berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan rakyat.
“Saya tahu bagaimana penderitaan masyarakat saya saat ini,” ujar Robi.
Ia menyebut, kondisi ekonomi masyarakat perlu menjadi perhatian serius pemerintah, terutama terhadap petani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari komoditas perkebunan.
Robi juga menyinggung harga gambir dan karet yang menurutnya masih rendah. Menurutnya, ketika harga hasil perkebunan turun, masyarakat tetap harus membeli kebutuhan pokok dengan harga yang relatif tinggi.
Kesenjangan antara pendapatan dan pengeluaran itulah yang dinilai semakin membuat masyarakat tertekan.
Bagi Robi, makna kemerdekaan tidak semestinya hanya dilihat dari semaraknya perayaan dan banyaknya Bendera Merah Putih yang berkibar di sepanjang jalan maupun halaman rumah warga.
Lebih jauh, kata dia, kemerdekaan harus tercermin dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat harus memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang layak, memenuhi kebutuhan keluarga, mendapatkan akses pelayanan yang baik, serta menikmati hasil pembangunan.
Karena itu, ia berharap momentum HUT ke-81 RI dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk melihat lebih dekat persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat di tingkat nagari.
“Jangan hanya melihat masyarakat dari luar. Pemerintah harus turun dan mendengar apa yang dirasakan masyarakat,” tuturnya. (*)



















