Kenakan Busana “Anak Daro”, Lisda Hendrajoni Bawa Pesan Pelestarian Budaya di HUT RI

DAERAH, HEADLINE, NASIONAL105 Dilihat

PESISIR SELATAN — Nuansa budaya lokal mewarnai upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Pesisir Selatan. Ketua TP-PKK Pessel, Lisda Hendrajoni, tampil anggun mengenakan busana adat “Anak Daro” saat mendampingi Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni pada upacara yang berlangsung di GOR H. Ilyas Yakub, Painan, Senin (17/8/2026).

Busana yang dikenakan Lisda bukan sekadar pilihan pakaian untuk menghadiri upacara kenegaraan. Pakaian “Anak Daro” merupakan busana pengantin perempuan dalam tradisi adat Minangkabau, salah satu warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas sejarah Pesisir Selatan.

Penampilan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana generasi hari ini menjaga identitas dan warisan budaya daerah.

Dalam upacara tersebut, Bupati Hendrajoni bertindak sebagai inspektur upacara. Lisda hadir mendampingi sekaligus membawa identitas budaya Pesisir Selatan melalui busana adat yang dikenakannya.

Lisda yang juga merupakan anggota Komisi VIII DPR RI mengatakan penggunaan pakaian adat dalam momentum peringatan kemerdekaan memiliki makna lebih dari sekadar pelengkap seremoni.

Menurutnya, ruang-ruang publik dan momentum penting seperti peringatan HUT RI dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Kita harus bangga dengan budaya lokal Pesisir Selatan. Kita harus menjaga dan merawatnya, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kita,” ujar Lisda.

Bagi Lisda, budaya tidak boleh hanya menjadi cerita yang tersimpan dalam ingatan generasi terdahulu. Tradisi yang diwariskan para pendahulu harus terus diperkenalkan dan dirawat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Apalagi, perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat membuat generasi muda memiliki akses luas terhadap berbagai budaya dari luar daerah maupun luar negeri.

Di tengah kondisi tersebut, Lisda menilai penguatan identitas budaya lokal menjadi semakin penting. Anak-anak muda Pesisir Selatan perlu mengenal akar budaya daerahnya sendiri sebelum kemudian melangkah lebih jauh menghadapi dunia yang semakin terbuka.

Ia menegaskan, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh adat. Masyarakat, keluarga dan generasi muda memiliki peran yang sama penting dalam memastikan warisan budaya tetap bertahan.

Menurut Lisda, kebanggaan terhadap budaya daerah juga merupakan bagian dari cara mengisi kemerdekaan.

Kemerdekaan memberi ruang bagi setiap daerah untuk merawat identitas, tradisi dan nilai-nilai yang telah tumbuh selama berabad-abad. Karena itu, kemajuan pembangunan tidak semestinya membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya.

Selain berbicara mengenai budaya, Lisda juga mengajak masyarakat memaknai HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai momentum memperkuat dukungan terhadap pembangunan daerah.

Ia mengatakan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah pada berbagai tingkatan pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat, provinsi dan daerah pada prinsipnya dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas,” katanya.

Menurutnya, semangat gotong royong yang menjadi bagian dari karakter bangsa harus terus dipelihara. Pemerintah dan masyarakat perlu berjalan bersama agar berbagai program pembangunan dapat memberikan dampak nyata.

Di momentum kemerdekaan tersebut, Lisda juga mengingatkan generasi muda Pesisir Selatan agar tidak melupakan perjuangan para pahlawan.

Jika dahulu para pejuang mempertaruhkan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan, generasi saat ini memiliki medan perjuangan yang berbeda.

Pendidikan, kreativitas, penguasaan teknologi, inovasi dan kemampuan beradaptasi menjadi modal penting untuk mempertahankan sekaligus mengisi kemerdekaan.

“Generasi muda harus kreatif, cerdas, kritis, inovatif dan siap bersaing dengan kemajuan zaman serta teknologi yang ke depan akan semakin berkembang,” ucapnya.

Menurut Lisda, generasi muda tidak boleh hanya menjadi pengguna perkembangan teknologi. Mereka harus mampu menjadikannya sebagai alat untuk menciptakan peluang, meningkatkan kapasitas dan memberikan kontribusi bagi daerah.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika semangat kemerdekaan dipertemukan dengan kekayaan budaya lokal. Generasi muda diharapkan mampu berdiri di tengah derasnya perubahan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai bagian dari Pesisir Selatan.

Di penghujung pernyataannya, Lisda mengajak masyarakat menjadikan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai momentum memperkuat persatuan, menjaga budaya dan bersama-sama membangun daerah.

“Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur,” tuturnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *