PESISIR SELATAN — Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan satuan pendidikan. Sebanyak 410 pendidik dan tenaga kependidikan dari berbagai jenjang mengikuti Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026.
Kegiatan yang digelar melalui Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Pessel, Rabu (23/9/2026).
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas satuan pendidikan agar mampu menghadapi risiko bencana secara terencana, cepat dan kolaboratif.
Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni mengatakan, kondisi geografis Pessel yang memiliki keindahan alam luar biasa juga menyimpan potensi risiko bencana yang tidak boleh diabaikan.
“Kita semua menyadari bahwa Kabupaten Pesisir Selatan ini adalah salah satu daerah yang memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa, namun juga menyimpan potensi risiko bencana yang tidak bisa kita abaikan,” kata Hendrajoni.
Menurutnya, pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peran sentral dalam memastikan keselamatan warga satuan pendidikan, terutama peserta didik ketika terjadi keadaan darurat.
Ia menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut karena kesiapsiagaan tidak cukup hanya dibangun melalui pengetahuan, tetapi harus menjadi budaya yang diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah.
Berdasarkan komposisinya, pelatihan diikuti 410 peserta yang terdiri atas 30 guru TK, 240 guru SD, 120 guru SMP dan 20 peserta dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Ini adalah bentuk kolaborasi lintas jenjang yang sangat baik untuk memperkuat kesiapsiagaan di setiap satuan pendidikan,” ujarnya.
Pelaksanaan pelatihan dibagi dalam tiga batch. Dinas Pendidikan Pessel melaksanakan batch kedua yang berlangsung pada 24 hingga 26 September 2026.
Hendrajoni menegaskan, peserta tidak hanya dituntut memahami teori kebencanaan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata di lingkungan pendidikan masing-masing.
Ia meminta para pendidik mampu mengenali potensi bahaya dan kerentanan di lingkungan satuan pendidikan, termasuk mengidentifikasi jalur evakuasi yang aman, titik kumpul serta sarana pendukung yang diperlukan.
Selain itu, pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menyusun rencana tindakan sederhana namun jelas, termasuk pembagian peran, komunikasi darurat dan prosedur evakuasi.
“Peran bapak dan ibu sangatlah besar. Bapak dan ibu bukan hanya penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga pelindung bagi peserta didik kita,” ucapnya.
Dalam kondisi darurat, kata Hendrajoni, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Pendidik harus mampu merespons dengan cepat dan tepat, tetap tenang, menjalankan prosedur evakuasi serta memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan.
Tidak kalah penting, kesiapsiagaan juga harus berlanjut hingga tahap pemulihan. Satuan pendidikan perlu memiliki kemampuan untuk mendukung keberlanjutan layanan pendidikan setelah bencana sehingga peserta didik tetap dapat belajar meskipun berada dalam situasi sulit atau darurat.
“Jadikan latihan dan evaluasi ini sebagai bagian dari budaya kita di satuan pendidikan. Mari kita bangun lingkungan pendidikan yang aman, siap, dan tangguh,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pessel Salim Muhaimin mengatakan, pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan pemahaman pendidik dan tenaga kependidikan mengenai risiko serta kesiapsiagaan bencana di satuan pendidikan.
Menurutnya, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai langkah yang harus dilakukan sebelum, saat dan setelah bencana.
“Tujuan kegiatan adalah membangun kapasitas satuan pendidikan dalam menghadapi risiko bencana secara terencana dan kolaboratif,” kata Salim.
Ia menjelaskan, peserta diarahkan agar mampu mengenali potensi bahaya di lingkungan pendidikan, memahami prosedur evakuasi, komunikasi darurat serta perlindungan terhadap warga sekolah maupun PKBM.
Pelatihan juga mendorong terbentuknya budaya siaga, tangguh dan saling membantu di lingkungan satuan pendidikan.
Materi yang diberikan mencakup kesadaran risiko, kesiapsiagaan, tanggap darurat, keselamatan warga satuan pendidikan, simulasi hingga pemulihan pascabencana.
Peserta juga dilatih menyusun rencana kontinjensi sederhana, pembagian peran, kesiapan sarana, menentukan titik kumpul, membangun komunikasi darurat serta melakukan koordinasi ketika bencana terjadi.
“Keselamatan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan menjadi bagian penting dalam membangun satuan pendidikan yang aman,” ujarnya.
Salim menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh berhenti setelah pelatihan selesai. Pengetahuan yang diperoleh harus diterapkan melalui edukasi, latihan dan simulasi secara berkala.
Sebelum bencana, pendidik diharapkan memberikan edukasi, memastikan jalur evakuasi, menyiapkan kontak darurat serta pembagian tugas. Saat bencana terjadi, keselamatan dan ketenangan harus menjadi prioritas dengan tetap mengikuti prosedur evakuasi dan membantu kelompok rentan.
Sementara setelah bencana, pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peran dalam mendampingi pemulihan, membantu memulihkan lingkungan belajar serta memastikan layanan pendidikan tetap berjalan.
“Sebanyak 410 peserta dari berbagai jenjang ini menjadi kekuatan bersama untuk memperkuat kesiapsiagaan di satuan pendidikan,” ucap Salim.
Ia berharap pelatihan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam cara satuan pendidikan menghadapi ancaman bencana.
“Kesiapsiagaan yang kuat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Mari kita bangun lingkungan pendidikan yang aman dan siap menghadapi bencana,” pungkasnya.
Semangat tersebut dirangkum dalam empat prinsip yang ditekankan dalam pelatihan, yakni siaga, tenang, terencana dan saling membantu.
Dengan penguatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan, satuan pendidikan di Pesisir Selatan diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi lingkungan yang mampu melindungi peserta didik dan menjaga keberlanjutan pendidikan ketika bencana terjadi.















