PESISIR SELATAN — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pesisir Selatan terus memperluas ruang komunikasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan. Kali ini, PWI Pessel bersilaturahmi dengan Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, Salim Muhaimin, melalui program Komunikasi Publik untuk Pesisir Selatan (KOPI Pessel).
Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat sinergi antara insan pers dan Dinas Pendidikan, terutama dalam mengawal serta mempublikasikan program-program prioritas pemerintah daerah di bidang pendidikan.
Ketua PWI Pesisir Selatan, Robby Octora Romanza, mengatakan KOPI Pessel merupakan program yang telah dibahas bersama jajaran pengurus PWI sebagai wadah untuk membangun komunikasi berkelanjutan dengan pemerintah daerah.
Menurut Robby, salah satu tujuan utama program tersebut adalah memastikan visi dan misi kepala daerah dapat diketahui masyarakat secara luas melalui pemberitaan yang informatif dan berimbang.
“KOPI Pessel ini merupakan program yang sudah kami bahas sebelumnya bersama kawan-kawan pengurus PWI. Tujuannya untuk mempublikasikan dan menginformasikan kepada masyarakat secara luas terkait visi dan misi kepala daerah,” katanya.
Dalam pertemuan itu, Robby menyoroti dua program prioritas Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, yakni Nagari Pandai dan Nagari Mangaji. Kedua program tersebut dinilai perlu diketahui masyarakat karena menyentuh langsung aspek pendidikan, pembentukan karakter dan lingkungan belajar anak.
“Melalui KOPI Pessel ini, program-program tersebut akan kami publikasikan kepada masyarakat secara luas melalui kawan-kawan yang tergabung di PWI,” ujarnya.
Robby juga memperkenalkan kepengurusan baru PWI Pesisir Selatan periode 2026-2029. Ia menyebut kepengurusan itu beranggotakan sebanyak 26 orang dan dalam waktu dekat akan segera dilantik.
Ia menegaskan, seluruh pengurus PWI Pesisir Selatan merupakan wartawan. Namun, tidak semua wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik di daerah itu merupakan pengurus atau anggota PWI.
“Kami di PWI sangat menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan etika. Karena itu, kami berharap pertemuan seperti ini tidak menjadi yang pertama dan terakhir. Kami selalu membuka ruang dan siap bersinergi dengan Dinas Pendidikan,” ucap Robby.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, Salim Muhaimin, menyambut baik kunjungan dan gagasan yang dibawa PWI Pesisir Selatan melalui KOPI Pessel.
Salim mengapresiasi program tersebut karena dinilai dapat menjadi ruang komunikasi dua arah antara pemerintah dan wartawan, terutama dalam membahas program pendidikan sekaligus menerima kritik dan masukan dari masyarakat melalui media.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada PWI Pesisir Selatan yang telah menggagas program KOPI Pessel. Kami selalu membuka ruang diskusi dengan kawan-kawan terkait kegiatan atau program yang kami lakukan. Dan kami tidak anti kritik,” ujar Salim.
Menurutnya, komunikasi terbuka antara pemerintah dan media merupakan kebutuhan dalam menjalankan program pembangunan. Kritik dan masukan, kata dia, diperlukan sebagai bagian dari upaya saling mengingatkan agar kebijakan yang dijalankan tetap berada pada jalurnya.
“Kegiatan seperti ini sudah seharusnya menjadi kebutuhan untuk saling mengingatkan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Salim menjelaskan bahwa program Nagari Pandai dan Nagari Mangaji diarahkan untuk membangun ekosistem belajar anak yang lebih luas. Pendidikan, menurutnya, tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi harus ditopang lingkungan yang mampu mendorong perkembangan kemampuan dan karakter anak.
“Yang mau kita bangun adalah ekosistem belajar anak sehingga kemampuan mereka bisa meningkat lebih baik,” ucapnya.
Ia menyebut, pelaksanaan program itu saat ini masih banyak bergerak pada level sekolah. Pemerintah daerah tengah mempersiapkan regulasi agar konsep tersebut dapat dikembangkan hingga ke tingkat nagari.
“Hari ini kita masih bergerak di level sekolah, belum bergerak ke level nagari. Kita sedang mempersiapkan Perbup nya,” tutur Salim.
Salim juga menyinggung persoalan angka putus sekolah di Pesisir Selatan yang masih mengalami fluktuasi. Menurut dia, persoalan tersebut tidak selalu menggambarkan kondisi riil anak yang berhenti mengenyam pendidikan.
Ia menyampaikan, salah satu kendalanya berkaitan dengan pencatatan administrasi kependudukan. Ada anak yang sebenarnya masih bersekolah, namun karena persoalan pencatatan data, mereka tidak masuk dalam basis data pendidikan.
“Angka putus sekolah kita fluktuatif, naik turun. Penyebabnya terkadang pada data pencatatan sipil. Anak-anak ini sebenarnya sekolah, tetapi karena namanya tidak tercatat akhirnya tidak masuk database,” jelasnya.
Dinas Pendidikan, kata Salim, kini juga mendorong pendekatan pendidikan yang lebih menekankan kemampuan literasi dan proses pembentukan anak, bukan semata-mata mengejar peringkat atau capaian akademik.
“Karena lingkungan tersebut tidak semuanya harus dirangking. Sekarang bukan sebatas belajar mengajar atau mengejar prestasi, sekarang harus mendidik,” ujarnya.
Karena itu, Salim meminta jajaran satuan pendidikan tidak hanya menjalankan tugas secara normatif. Ia berharap sekolah mampu melihat persoalan pendidikan secara lebih luas dan aktif membangun lingkungan yang mendukung perkembangan peserta didik.
“Kami juga tekankan kepada kawan-kawan yang ada di satuan pendidikan, jangan hanya bekerja normatif,” katanya.
Salim juga secara terbuka meminta dukungan PWI dan insan pers untuk ikut memantau pelaksanaan kegiatan pendidikan di lapangan. Pengawasan tersebut, menurut dia, mencakup berbagai aspek, mulai dari pelaksanaan program hingga persoalan profesionalisme dan etika guru.
“Kami mohon dukungan kepada seluruh pihak, termasuk kawan-kawan di PWI, agar bersama-sama memantau dan mengawasi setiap kegiatan yang ada, termasuk persoalan profesional dan etika guru serta dugaan pungutan yang tidak wajar,” ucapnya.
Ia berharap, pengawasan tersebut dapat berjalan secara objektif dan menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas layanan pendidikan di Pesisir Selatan.
Terkait KOPI Pessel, Salim bahkan mengusulkan agar forum komunikasi tersebut tidak berhenti pada pertemuan perdana. Ia berharap diskusi antara Dinas Pendidikan dan PWI dapat digelar secara rutin setiap tiga bulan.
Menurutnya, dalam pertemuan berikutnya, masing-masing kepala bidang di Dinas Pendidikan dapat dihadirkan sebagai narasumber untuk menjelaskan program dan kebijakan secara lebih spesifik kepada wartawan.
“Kami berharap pertemuan hari ini melalui KOPI Pessel bisa dilaksanakan setiap tiga bulan. Nanti ada juga kepala bidang yang menjadi narasumber sehingga program-program dapat diekspos oleh kawan-kawan wartawan,” pungkasnya.
KOPI Pessel sendiri merupakan forum komunikasi dan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan dan PWI Pesisir Selatan yang diarahkan untuk membangun komunikasi berkelanjutan, mengawal pembangunan secara transparan serta membahas berbagai isu strategis terkait keterbukaan informasi publik.
Melalui forum tersebut, hubungan pemerintah dan media diharapkan tidak sebatas pada penyampaian informasi, tetapi berkembang menjadi ruang dialog untuk menguji, mengawasi dan menyampaikan program pembangunan kepada masyarakat secara lebih utuh.



















