PESISIR SELATAN – Menjadi pendidik tidak menghalangi seseorang untuk terus mengembangkan potensi dan menorehkan prestasi di bidang lain. Prinsip itulah yang tercermin dari perjalanan Wawan Kurniawan, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) SMPN 2 Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, yang tetap aktif menekuni dunia olahraga bela diri di tengah kesibukannya menjalankan tugas pendidikan.
Lahir di Padang pada 6 April 1987, Wawan mendapat kepercayaan sebagai wasit dan juri cabang olahraga kick boxing pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat XVI. Penugasan yang berlangsung di Lanud Tabing, Padang, tersebut menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan panjangnya di dunia bela diri.
Kepercayaan itu bukan datang secara instan. Di balik tugasnya mengawasi pertandingan dan mengambil keputusan di arena, terdapat perjalanan panjang yang dimulai dari pengalaman sebagai atlet pencak silat, kemudian merambah tarung derajat hingga Mixed Martial Arts (MMA).
Pengalaman sebagai atlet memberinya pemahaman langsung tentang dinamika pertandingan, tekanan kompetisi, kedisiplinan, serta pentingnya menjunjung tinggi sportivitas. Bekal tersebut kemudian menjadi fondasi ketika ia memilih melangkah ke dunia perwasitan.
“Bagi saya, olahraga bela diri bukan sekadar aktivitas fisik. Ada kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, dan sportivitas. Nilai-nilai itu sangat dekat dengan dunia pendidikan,” ujar Wawan pada wartawan, Jumat (23/10/2026).
Perjalanan Wawan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam olahraga tidak selalu harus berhenti ketika seseorang meninggalkan arena sebagai atlet. Dengan kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan, pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi peran baru yang tidak kalah penting, yakni memastikan pertandingan berlangsung sesuai aturan dan menjunjung tinggi keadilan.
Kiprahnya di dunia perwasitan bahkan telah membawanya ke sejumlah ajang bergengsi. Wawan pernah dipercaya bertugas sebagai wasit pada ajang internasional MMA di Sao Paulo, Brasil, pada 2025 serta GMMA World Championship 2024. Ia juga tercatat memiliki pengalaman sebagai pelatih nasional PB IPSI pada 2019.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan profesionalnya di dunia bela diri. Baginya, menjadi wasit bukan sekadar berdiri di tengah arena atau memahami aturan pertandingan, melainkan memikul tanggung jawab untuk memastikan setiap atlet memperoleh perlakuan yang adil.
“Menjadi wasit bukan hanya soal memahami peraturan. Butuh konsentrasi, ketegasan, objektivitas, dan keberanian mengambil keputusan,” katanya.
Kini, Wawan mulai memperluas kiprahnya ke cabang kick boxing. Kesempatan tersebut bermula ketika ia dipercaya memimpin pertandingan di Padang Championship 2026. Dari pengalaman itu, langkahnya berlanjut hingga mendapat penugasan pada Porprov Sumbar XVI.
Bertugas dalam ajang olahraga tingkat provinsi tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Wasit dan juri dituntut menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan, memahami regulasi secara menyeluruh, serta mengambil keputusan secara objektif di tengah persaingan atlet yang berusaha memberikan penampilan terbaik.
Dalam situasi seperti itu, ketegasan harus berjalan beriringan dengan ketelitian. Setiap keputusan memiliki arti bagi atlet, pelatih, dan tim yang bertanding. Karena itu, integritas menjadi modal utama bagi seorang perangkat pertandingan.
Bagi Wawan, kepercayaan bertugas di Porprov Sumbar XVI bukanlah garis akhir. Ia masih ingin mengembangkan kapasitas dan memperluas pengalaman di tingkat nasional.
Salah satu agenda yang menjadi harapannya adalah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kick Boxing yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada November 2026.
“Saya berharap kembali mendapat kepercayaan dari Pengurus Kick Boxing Sumbar untuk bertugas di Kejurnas nanti,” ucap Wawan.
Harapan tersebut menjadi bagian dari tekadnya untuk terus meningkatkan kemampuan sekaligus memberikan kontribusi bagi perkembangan olahraga bela diri. Ia menyadari bahwa setiap penugasan merupakan kesempatan untuk belajar, memperkuat profesionalisme, dan membangun kepercayaan melalui kinerja yang bertanggung jawab.
Namun, di balik aktivitasnya di arena olahraga, Wawan tetap menempatkan profesinya sebagai pendidik sebagai tanggung jawab utama. Tugasnya sebagai Wakil Kepala Sekolah SMPN 2 Sutera tetap menjadi bagian penting dalam kesehariannya.
Dua peran yang dijalaninya memang berada di lingkungan berbeda. Di sekolah, ia berhadapan dengan tanggung jawab mendukung proses pendidikan dan perkembangan peserta didik. Sementara di arena pertandingan, ia dituntut menjaga profesionalisme, objektivitas, dan ketegasan.
Meski demikian, Wawan melihat keduanya memiliki nilai yang saling berkaitan. Disiplin, tanggung jawab, komitmen, dan kemampuan mengelola waktu menjadi prinsip yang dibutuhkan, baik dalam menjalankan tugas pendidikan maupun dalam dunia olahraga.
“Profesi guru dan kegiatan olahraga bisa saling mendukung selama dijalani dengan disiplin, pengaturan waktu, dan komitmen. Saya ingin menunjukkan bahwa seorang pendidik juga bisa terus berkarya di luar sekolah,” tuturnya.
Lebih jauh, Wawan berharap perjalanan yang ditempuhnya dapat menjadi motivasi bagi para siswa, khususnya di lingkungan SMPN 2 Sutera, agar berani mengenali dan mengembangkan potensi diri.
Menurutnya, kesempatan untuk berkembang terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan menjaga kedisiplinan. Prestasi tidak selalu lahir dari satu bidang, tetapi dapat tumbuh dari berbagai pilihan yang dijalani dengan kesungguhan.
“Jangan takut bermimpi dan mengembangkan potensi diri. Selama ada kemauan, kedisiplinan, dan kerja keras, kesempatan untuk berprestasi selalu terbuka. Mengajar adalah pengabdian, menjadi insan olahraga adalah pilihan untuk terus berkembang,” pungkasnya.
Kisah Wawan menjadi gambaran bahwa pengabdian sebagai pendidik dan kecintaan terhadap olahraga dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, ia menjalankan tanggung jawab untuk mendukung dunia pendidikan. Di sisi lain, ia terus mengembangkan kompetensi dan mengukir pengalaman di dunia bela diri.
Kepercayaan menjadi wasit dan juri kick boxing pada Porprov XVI Sumbar pun menjadi pengingat bahwa prestasi tidak selalu diukur dari medali yang diraih seorang atlet. Kontribusi juga dapat hadir melalui peran di balik pertandingan, ketika integritas, profesionalisme, dan keadilan menjadi penentu kualitas sebuah kompetisi.
Bagi Wawan, perjalanan itu masih berlanjut. Dari sekolah di Sutera hingga arena pertandingan, ia terus berupaya membuktikan bahwa semangat belajar, disiplin, dan kemauan untuk berkembang dapat membuka jalan bagi seseorang untuk memberikan manfaat dalam lebih dari satu bidang kehidupan.
















