PESISIR SELATAN – Upaya panjang menjaga kawasan pesisir akhirnya berbuah penghargaan di tingkat nasional. Laskar Pemuda Peduli Lingkungan Nagari Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, berhasil meraih Peringkat I Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas konsistensi kelompok yang dipimpin Haridman dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kawasan pesisir, mangrove dan habitat penyu.
Haridman diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Kantor Kementerian Kehutanan.
Bagi Haridman dan anggota kelompoknya, penghargaan tersebut bukanlah hasil yang diraih secara instan. Ada perjalanan panjang sekitar 15 tahun yang mereka lalui untuk mengubah kawasan pantai Ampiang Parak yang sebelumnya gersang menjadi kawasan yang lebih hijau dan memiliki ekosistem yang terjaga.
Gerakan itu bermula dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan di kampung halaman. Bersama pemuda dan masyarakat, Haridman mulai melakukan penghijauan dan rehabilitasi kawasan pesisir.
Mangrove menjadi salah satu tanaman yang dikembangkan untuk memperkuat ekosistem pantai. Tidak berhenti di sana, mereka juga menanam cemara laut yang berfungsi sebagai pelindung kawasan pesisir sekaligus bagian dari upaya mitigasi terhadap ancaman bencana.
Perhatian kelompok tersebut juga tertuju pada keberlangsungan populasi penyu yang selama ini menjadikan kawasan pesisir Ampiang Parak sebagai habitat.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga satwa tersebut tetap lestari. Salah satunya melalui edukasi kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi telur penyu.
Bagi kelompok ini, pelestarian penyu bukan semata menyelamatkan satu jenis satwa, tetapi menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat.
“Yang kami lakukan selama ini berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan. Pantai ini harus dijaga agar tetap menjadi habitat yang baik bagi berbagai jenis satwa sekaligus memberikan perlindungan nyata bagi masyarakat,” ujar Haridman dikutip keterangannya, Senin (17/8/2026).
Perjalanan Haridman dalam gerakan lingkungan juga tidak terlepas dari latar belakangnya. Alumni Fakultas Peternakan Universitas Andalas itu, juga pernah menjalani profesi sebagai wartawan Harian Haluan yang merupakan surat kabar tertua di Sumatera Barat.
Namun, di tengah perjalanan hidupnya, kepeduliannya terhadap lingkungan semakin kuat. Ia kemudian memilih mengabdikan waktu dan tenaganya bersama pemuda serta masyarakat Nagari Ampiang Parak untuk menjaga kawasan pesisir.
Sebagai ayah dari tiga anak, Haridman berharap penghargaan Wana Lestari tidak hanya menjadi kebanggaan bagi kelompoknya, tetapi juga menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk ikut merawat lingkungan.
Menurutnya, menjaga lingkungan tidak harus selalu dimulai dengan gerakan besar. Kepedulian dapat tumbuh dari lingkungan sekitar, kemudian dilakukan secara konsisten hingga memberikan manfaat yang lebih luas.
Laskar Pemuda Peduli Lingkungan Nagari Ampiang Parak sendiri telah menerima berbagai penghargaan di tingkat kabupaten, provinsi, nasional hingga internasional atas konsistensinya dalam menjaga kawasan pesisir, mangrove dan habitat penyu.
Penghargaan Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa gerakan pelestarian lingkungan yang tumbuh dari tingkat nagari mampu mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Lebih dari sekadar penghargaan, capaian tersebut menjadi cerita tentang bagaimana kepedulian sekelompok pemuda terhadap pantai di kampung halaman dapat berkembang menjadi gerakan konservasi yang memberikan manfaat bagi alam dan masyarakat.
Dari pantai yang dahulu gersang, mereka menanam harapan. Dari kepedulian yang dilakukan selama bertahun-tahun, kini Ampiang Parak membawa nama Pesisir Selatan ke tingkat nasional melalui gerakan menjaga lingkungan. (*)















